Remahan.com

Ekonom Senior: Enam Menteri Saya Harapkan Out

REMAHAN.com - Hanya dalam hitungan hari, Joko Widodo (Jokowi) dilantik sebagai presiden periode 2019-2024. Selepas pelantikan digelar di Ruang Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Kompleks Parlemen, Senayan, Ahad (20/10/2019) pukul 14.30 WIB, Jokowi akan segera mengumumkan susunan kabinet.

Ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (16/10/2019), Jokowi memberikan kisi-kisi perihal Kabinet Kerja II. Salah satunya adalah ada sejumlah nama yang dipertahankan.

"Yang lama ada, yang baru banyak," ujar Jokowi.

Ekonom senior yang juga pendiri INDEF, Faisal Basri, seperti dimuat CNBCIndonesia.com menilai, tidak semua menteri di bidang ekonomi saat ini layak dipertahankan.

"Enam menteri saya harapkan out," katanya di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Baca: DPR RI Minta Presiden Segera Terbitkan Perppu Penundaan Pilkada

Pertama, Menteri Perdagangan Enggartiasto. Menurut Faisal, 'dosa' Enggartiasto tergolong banyak selama menjadi menteri. Ia menuding Enggartiasto menggelar 'karpet merah' impor hingga menghancurkan industri dalam negeri dan pengangguran.

"Itu kejahatan luar biasa," ujar Faisal.

Kedua, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno. Faisal menilai konsep holding BUMN a la Rini tidak jelas. BUMN pun dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak produktif.

"Walau bukan salah sepenuhnya dia seringkali pergantian dirut (direktur utama) dan yang dia ganti sebagian masuk penjara. Pak Dwi Sutjipto (Kepala SKK Migas) sudah bagus di Pertamina malah diganti oleh Nicke (Nicke Widyawati)," kata Faisal.

Ketiga, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan. Ia menilai Jonan kerap tidak mendengar stakeholder dalam mengambil keputusan untuk mengubah aturan. Misalnya aturan cost recovery menjadi gross split di sektor migas.

Baca: Sempat Tolak Syamsuar, Ini Sikap AMPG Riau Usai Andi Rachman Mundur di Pencalonan Ketua Golkar

Keempat, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Menurut Faisal, Airlangga tidak cocok menjadi menteri perindustrian. Konsep Making Indonesia 4.0 pun tidak tepat menjadi program Kementerian Perindustrian.

Kelima, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Di era Amran, lanjut Faisal, defisit pangan mengalami peningkatan. 'Dosa' lain Amran adalah memfasilitasi pembangunan pabrik gula milik sang sepupu.

Keenam, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan. Menurut Faisal, Luhut gagal mengoordinasi menteri di bawah Kemenko Kemaritiman agar tidak ada tumpang tindih. Rm

129 0

Artikel Terkait

Syamsuar Ketua Golkar, Sekum PAN Riau: Kekecewaan Kader Jangan Berlarut-larut
Syamsuar Ketua Golkar, Sekum PAN Riau: Kekecewaan Kader Jangan Berlarut-larut

Politik

Syamsuar Ketua Golkar, Sekum PAN Riau: Kekecewaan Kader Jangan Berlarut-larut

Andi Rachman Mundur di Musda Golkar, Syamsuar akan Terpilih Secara Aklamasi
Andi Rachman Mundur di Musda Golkar, Syamsuar akan Terpilih Secara Aklamasi

Politik

Andi Rachman Mundur di Musda Golkar, Syamsuar akan Terpilih Secara Aklamasi

PKS Sindir Prabowo ke Luar Negeri,Gerindra: Jangan Genit
PKS Sindir Prabowo ke Luar Negeri,Gerindra: Jangan Genit

Politik

PKS Sindir Prabowo ke Luar Negeri,Gerindra: Jangan Genit

Artikel Lainnya

Bagus Santoso Siap Wujudkan Bengkalis BEDELAU
Bagus Santoso Siap Wujudkan Bengkalis BEDELAU

Politik

Bagus Santoso Siap Wujudkan Bengkalis BEDELAU

Bantahan Moeldoko Tak Punya Hubungan Keluarga dengan Eks Petinggi Jiwasraya
Bantahan Moeldoko Tak Punya Hubungan Keluarga dengan Eks Petinggi Jiwasraya

Politik

Bantahan Moeldoko Tak Punya Hubungan Keluarga dengan Eks Petinggi Jiwasraya

Demokrat Nilai saat Jokowi Ada Masalah akan Bawa-bawa Nama SBY
Demokrat Nilai saat Jokowi Ada Masalah akan Bawa-bawa Nama SBY

Politik

Demokrat Nilai saat Jokowi Ada Masalah akan Bawa-bawa Nama SBY

Komentar